Di dalam Al-Qur'an tidak disebutkan nama Hawa. Ayat Al-Qur'an yang menerangkan tentang Nabi Adam as hanya menyinggung Hawa sa dengan istilah istri Adam (zaujuka: istrimu).[9]
Sedangkan di dalam hadis, sejarah dan tafsir banyak disebutan
nama Hawa sa sebagai istri Nabi Adam as. Disebut Hawa karena ia adalah
ibu dari semua yang hidup.[10] Atau karena ia tercipta dari sosok "hayy" (yang hidup: Adam).[11] Dalam riwayat disebutkan, Nabi Adam as menamai Hawa dengan Atssa, dalam bahasa Nabath berarti perempuan.[12]
Proses Penciptaan Adam dan Hawa dalam Al-Qur'an
Di tegaskan dalam Al-Qur'an bahwa Nabi Adam as itu tercipta dari tanah.[13]Disebutkan pula, "Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan pasangannya."[14]
Para mufasir terdahulu umumnya meyakini, yang dimaksud "nafs:
diri" dalam ayat tersebut adalah Nabi Adam as, sedangkan maksud "zauj:
pasangan" adalah Hawa sa. Banyak riwayat menyebutkan Allah swt menciptakan Hawa sa dari salah satu tulang rusuk Nabi Adam as.[15] Ada juga yang menyebutkan bahwa ia tercipta dari sisa tanah yang digunakan untuk menciptakan Nabi Adam as.[16]'
Menurut sebagian mufasir, maksud ayat tersebut adalah Allah swt menciptakan pasangan Nabi Adam as dari jenisnya sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain yang memiliki makna sama yaitu, "dari jenis kalian sendiri."[17]
Tafsiran ini menjadi lebih sesuai dengan melihat kelanjutan Surah
al-A'raf ayat 189, "agar ia merasa tenang di sisi pasangannya." Karena
siapapun pasti akan lebih tertarik dan nyaman jika dengan jenis yang
sama.[18]
Sebagian kalangan modern berpendapat, maksud "nafsun wahid"
itu bukan Nabi Adam as, tapi asal-usul penciptaan manusia (baik
laki-laki maupun perempuan). Mereka menyimpulkan, laki-laki dan
perempuan itu tercipta dari satu unsur.[19]
Sebagian kalangan menyebutkan, menurut teori biologi modern,
makhluk hidup pertama itu satu jenis yang kemudian mengalami
perkembangbiakan. Mulanya makhluk tersebut berreproduksi secara aseksual
lalu berpasangan dengan makhluk betina yang berasal darinya lalu
terlahirlah generasi manusia. Menurut teori ini, pada mulanya, pasangan
manusia pertama tidak diciptakan secara terpisah, namun tercipta dari
dirinya sendiri. Karena itu reproduksi manusia pada tahapan pertama
bukanlah secara seksual.[20]
Turunnya Adam dan Hawa dari Surga
Di dalam Al-Qur'an tidak disebutkan mengenai proses penciptaan Hawa sa. Menurut keterangan ayat Al-Qur'an, Allah swt menyuruh Nabi Adam as dan istrinya untuk tinggal di surga. Di surga
mereka boleh makan makanan apa saja kecuali buah dari satu pohon. Jika
mereka mendekati pohon tersebut maka akan dikategorikan sebagai orang
zalim. Syaitan
berhasil mengelabuhi mereka berdua hingga keduanya memakan buah
terlarang. Akibatnya, aurat mereka berdua terlihat. Mereka lalu menutupi
tubuh dengan dedaunan surga. Sadar telah berbuat salah, mereka memohon
pada Allah swt supaya memberi ampunan. Allah swt
berfirman bahwa mereka harus turun ke bumi dan hidup di sana. Akhirnya
mereka dikeluarkan dari surga dan tinggal di bumi hingga meninggal.[21]
Peran Hawa dalam Dosa Adam
Al-Qur'an sama sekali tidak menyebutkan peran Hawa sa atas "dosa"
yang diperbuat Nabi Adam as. Menurut Perjanjian Lama, ular berhasil
membujuk dan menipu Hawa sa. Tak hanya itu, Hawa sa juga memperdaya Nabi
Adam as. Sedangkan menurut al-Qur'an, ular menggoda keduanya.[22]Menurut
Surah Thaha ayat 120, kisah yang terjadi hanyalah dialog antara Nabi
Adam as dan setan. Saat itu setan membujuknya secara langsung. Sama
sekali tidak disebutkan adanya kontak antara setan dengan Hawa sa.
Menurut tradisi Yahudi dan Kristen, Hawa sa adalah orang yang tertipu
dan menyesatkan. Sedangkan al-Qur'an menyebutkan, Nabi Adam as dan Hawa
sa, masing-masing memiliki tenggung jawab yang sama atas "dosa" yang
telah mereka lakukan. Akibatnya, keduanya dikeluarkan dari surga.[23]
Tergodanya Hawa dalam Penjelasan Hadis
Dalam beberapa hadis yang bersifat penafsiran terdapat kisah yang
menceritakan tentang godaan setan dan peran Hawa sa dalam kejadian yang
menimpanya dan suaminya, yaitu dikeluarkan dari surga.[24] Namun nampaknya cerita itu diambil dari kisah Perjanjian Lama.[25] Bahkan ada hadis yang menyebutkan, "Jika tidak ada Hawa maka tidak akan ada perempuan yang mengkhianati suaminya."[26]Maksud pengkhianatan di sini adalah peran Hawa sa atas dosa pertama yang dilakukan Nabi Adam as.[27]
Ada pula riwayat yang menceritakan tentang tergodanya Hawa sa setelah
ia dikeluarkan dari surga. Menurut riwayat tersebut, saat itu Hawa sa
sedang mengandung bayi namun tidak bertahan hidup. Setan (bernama
Harits) datang menemuinya dan membujuknya supaya menamai bayinya dengan
Abdul Harits (hamba Harits) supaya tetap hidup. Ia dan suaminya
melaksanakan saran tersebut, padahal itu adalah bujukan setan.[28]
Dengan demikian, menurut riwayat ini, Hawa sa telah menjerumuskan Nabi
Adam as ke dalam tipu daya setan untuk kedua kalinya (para Ulama Sunni dan Syiah banyak yang mengkritisi dan menjelaskan riwayat tersebut).[29] Allamah Majlisi menyebutkan, riwayat ini disampaikan oleh para imam Syiah dalam keadaan bertaqiah. Sedangkan Allamah Thabathabai menjelaskan, itu riwayat palsu atau israiliyat (diambil dari sumber Kristen dan Yahudi).[30]
Foto klasik yang dikaitkan dengan makam Siti Hawa sa di kota Jeddah, Arab Saudi diambil pada tahun 1918.
Hawa dalam Kitab Sejarah
Meski dalam referensi-referensi hadis syiah dan Sunni
tidak banyak yang menerangkan tentang Hawa sa, namun tidak demikian
dalam buku-buku sejarah. Banyak buku sejarah yang mencatat tentang kisah
para nabi dan orang terdahulu dengan berbagai model. Kebanyakan kisah
tersebut merujuk pada kisah-kisah israiliyat.[31] Menurut sebagian riwayat, ketika Allah swt menyuruh Nabi Adam as untuk tinggal di surga, dia sendirian. Allah swt
lalu membuatnya tertidur nyenyak dan menciptakan Hawa sa dari salah
satu tulang rusuknya. Selama proses penciptaan itu Nabi Adam as sama
sekali tidak merasa sakit. Setelah tercipta, Hawa sa diberi pakaian
surga, dipercantik lalu diantar ke Nabi Adam as. Begitu terbangun, Nabi
Adam as melihatnya dan menamainya Hawa.
Dalam referensi-referensi itu termaktub, selama di surga Nabi Adam as dan Hawa sa hidup nikmat dan berkecukupan. Suatu ketika Iblis
dengan wujud ular, dibantu burung merak datang untuk menggoda mereka
supaya memakan buah terlarang. Awalnya hanya Hawa yang makan kemudian
Nabi Adam as ikut memakan. Dalam beberapa riwayat disebutkan, selama
Nabi Adam as masih memiliki pikiran sehat ia tidak akan mau memakan buah
terlarang. Karenanya Hawa sa membuatnya mabuk lalu membawanya ke arah
pohon dan memaksanya memakan buah tersebut.
Karena telah melanggar larangan Allah swt dengan memakan buah terlarang,
Nabi Adam as dan Hawa sa dihukum dengan cara dikeluarkan dari surga.
Selain itu, Hawa sa juga menerima hukuman lain, di antaranya mengalami
haid, hamil dan melahirkan yang menyakitkan. Saat dileluarkan dari
surga, Nabi Adam as diturunkan di India, sedangkan Hawa di Jeddah.
Setelah mereka bertaubat, Allah swt mempertemukan keduanya di Arafah.
Mereka lalu menunaikan sebagain amalan haji. Setelah itu, untuk pertama kalinya Hawa sa mengalami haid. Nabi Adam as menghentak-hentakkan kakinya ke bumi hingga terpancar air zamzam yang kemudian digunakan Hawa sa untuk mandi. Hawa sa memiliki empat puluh anak dari dua puluh kali melahirkan. Ia meninggal setahun setelah wafatnya Nabi Adam as.[32]
Makam Hawa
Terdapat perbedaan pendapat mengenai letak makam Hawa sa. Sebagian
meyakini, selain tempat diturunkanya Hawa sa, Jeddah adalah juga tempat
makamnya.[33]
Menurut sebagian pendapat, atas dasar itu tempat tersebut dinamai
Jeddah (dari kata jaddah:nenek). Makam Hawa sa dibangun pertama kali
oleh warga Iran.[34]
Namun kemudian dihancurkan oleh pemerintah Arab Saudi. Sumber lain
meyebutkan bahwa makam Hawa sa berada samping makam Nabi Adam as di
sebuah gua yang terletak di gunung Abu Qubais, Mekah.[35]

