Rabu, 29 April 2020

Kata Hawa dalam Al-Qur'an dan Hadis

Di dalam Al-Qur'an tidak disebutkan nama Hawa. Ayat Al-Qur'an yang menerangkan tentang Nabi Adam as hanya menyinggung Hawa sa dengan istilah istri Adam (zaujuka: istrimu).[9]
Sedangkan di dalam hadis, sejarah dan tafsir banyak disebutan nama Hawa sa sebagai istri Nabi Adam as. Disebut Hawa karena ia adalah ibu dari semua yang hidup.[10] Atau karena ia tercipta dari sosok "hayy" (yang hidup: Adam).[11] Dalam riwayat disebutkan, Nabi Adam as menamai Hawa dengan Atssa, dalam bahasa Nabath berarti perempuan.[12]

Proses Penciptaan Adam dan Hawa dalam Al-Qur'an

Di tegaskan dalam Al-Qur'an bahwa Nabi Adam as itu tercipta dari tanah.[13]Disebutkan pula, "Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan pasangannya."[14]
Para mufasir terdahulu umumnya meyakini, yang dimaksud "nafs: diri" dalam ayat tersebut adalah Nabi Adam as, sedangkan maksud "zauj: pasangan" adalah Hawa sa. Banyak riwayat menyebutkan Allah swt menciptakan Hawa sa dari salah satu tulang rusuk Nabi Adam as.[15] Ada juga yang menyebutkan bahwa ia tercipta dari sisa tanah yang digunakan untuk menciptakan Nabi Adam as.[16]' Menurut sebagian mufasir, maksud ayat tersebut adalah Allah swt menciptakan pasangan Nabi Adam as dari jenisnya sendiri. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain yang memiliki makna sama yaitu, "dari jenis kalian sendiri."[17] Tafsiran ini menjadi lebih sesuai dengan melihat kelanjutan Surah al-A'raf ayat 189, "agar ia merasa tenang di sisi pasangannya." Karena siapapun pasti akan lebih tertarik dan nyaman jika dengan jenis yang sama.[18]
Sebagian kalangan modern berpendapat, maksud "nafsun wahid" itu bukan Nabi Adam as, tapi asal-usul penciptaan manusia (baik laki-laki maupun perempuan). Mereka menyimpulkan, laki-laki dan perempuan itu tercipta dari satu unsur.[19]
Sebagian kalangan menyebutkan, menurut teori biologi modern, makhluk hidup pertama itu satu jenis yang kemudian mengalami perkembangbiakan. Mulanya makhluk tersebut berreproduksi secara aseksual lalu berpasangan dengan makhluk betina yang berasal darinya lalu terlahirlah generasi manusia. Menurut teori ini, pada mulanya, pasangan manusia pertama tidak diciptakan secara terpisah, namun tercipta dari dirinya sendiri. Karena itu reproduksi manusia pada tahapan pertama bukanlah secara seksual.[20]

Turunnya Adam dan Hawa dari Surga

Di dalam Al-Qur'an tidak disebutkan mengenai proses penciptaan Hawa sa. Menurut keterangan ayat Al-Qur'an, Allah swt menyuruh Nabi Adam as dan istrinya untuk tinggal di surga. Di surga mereka boleh makan makanan apa saja kecuali buah dari satu pohon. Jika mereka mendekati pohon tersebut maka akan dikategorikan sebagai orang zalim. Syaitan berhasil mengelabuhi mereka berdua hingga keduanya memakan buah terlarang. Akibatnya, aurat mereka berdua terlihat. Mereka lalu menutupi tubuh dengan dedaunan surga. Sadar telah berbuat salah, mereka memohon pada Allah swt supaya memberi ampunan. Allah swt berfirman bahwa mereka harus turun ke bumi dan hidup di sana. Akhirnya mereka dikeluarkan dari surga dan tinggal di bumi hingga meninggal.[21]

Peran Hawa dalam Dosa Adam

Al-Qur'an sama sekali tidak menyebutkan peran Hawa sa atas "dosa" yang diperbuat Nabi Adam as. Menurut Perjanjian Lama, ular berhasil membujuk dan menipu Hawa sa. Tak hanya itu, Hawa sa juga memperdaya Nabi Adam as. Sedangkan menurut al-Qur'an, ular menggoda keduanya.[22]Menurut Surah Thaha ayat 120, kisah yang terjadi hanyalah dialog antara Nabi Adam as dan setan. Saat itu setan membujuknya secara langsung. Sama sekali tidak disebutkan adanya kontak antara setan dengan Hawa sa. Menurut tradisi Yahudi dan Kristen, Hawa sa adalah orang yang tertipu dan menyesatkan. Sedangkan al-Qur'an menyebutkan, Nabi Adam as dan Hawa sa, masing-masing memiliki tenggung jawab yang sama atas "dosa" yang telah mereka lakukan. Akibatnya, keduanya dikeluarkan dari surga.[23]

Tergodanya Hawa dalam Penjelasan Hadis

Dalam beberapa hadis yang bersifat penafsiran terdapat kisah yang menceritakan tentang godaan setan dan peran Hawa sa dalam kejadian yang menimpanya dan suaminya, yaitu dikeluarkan dari surga.[24] Namun nampaknya cerita itu diambil dari kisah Perjanjian Lama.[25] Bahkan ada hadis yang menyebutkan, "Jika tidak ada Hawa maka tidak akan ada perempuan yang mengkhianati suaminya."[26]Maksud pengkhianatan di sini adalah peran Hawa sa atas dosa pertama yang dilakukan Nabi Adam as.[27] Ada pula riwayat yang menceritakan tentang tergodanya Hawa sa setelah ia dikeluarkan dari surga. Menurut riwayat tersebut, saat itu Hawa sa sedang mengandung bayi namun tidak bertahan hidup. Setan (bernama Harits) datang menemuinya dan membujuknya supaya menamai bayinya dengan Abdul Harits (hamba Harits) supaya tetap hidup. Ia dan suaminya melaksanakan saran tersebut, padahal itu adalah bujukan setan.[28] Dengan demikian, menurut riwayat ini, Hawa sa telah menjerumuskan Nabi Adam as ke dalam tipu daya setan untuk kedua kalinya (para Ulama Sunni dan Syiah banyak yang mengkritisi dan menjelaskan riwayat tersebut).[29] Allamah Majlisi menyebutkan, riwayat ini disampaikan oleh para imam Syiah dalam keadaan bertaqiah. Sedangkan Allamah Thabathabai menjelaskan, itu riwayat palsu atau israiliyat (diambil dari sumber Kristen dan Yahudi).[30]
 
Foto klasik yang dikaitkan dengan makam Siti Hawa sa di kota Jeddah, Arab Saudi diambil pada tahun 1918.

Hawa dalam Kitab Sejarah

Meski dalam referensi-referensi hadis syiah dan Sunni tidak banyak yang menerangkan tentang Hawa sa, namun tidak demikian dalam buku-buku sejarah. Banyak buku sejarah yang mencatat tentang kisah para nabi dan orang terdahulu dengan berbagai model. Kebanyakan kisah tersebut merujuk pada kisah-kisah israiliyat.[31] Menurut sebagian riwayat, ketika Allah swt menyuruh Nabi Adam as untuk tinggal di surga, dia sendirian. Allah swt lalu membuatnya tertidur nyenyak dan menciptakan Hawa sa dari salah satu tulang rusuknya. Selama proses penciptaan itu Nabi Adam as sama sekali tidak merasa sakit. Setelah tercipta, Hawa sa diberi pakaian surga, dipercantik lalu diantar ke Nabi Adam as. Begitu terbangun, Nabi Adam as melihatnya dan menamainya Hawa.
Dalam referensi-referensi itu termaktub, selama di surga Nabi Adam as dan Hawa sa hidup nikmat dan berkecukupan. Suatu ketika Iblis dengan wujud ular, dibantu burung merak datang untuk menggoda mereka supaya memakan buah terlarang. Awalnya hanya Hawa yang makan kemudian Nabi Adam as ikut memakan. Dalam beberapa riwayat disebutkan, selama Nabi Adam as masih memiliki pikiran sehat ia tidak akan mau memakan buah terlarang. Karenanya Hawa sa membuatnya mabuk lalu membawanya ke arah pohon dan memaksanya memakan buah tersebut. Karena telah melanggar larangan Allah swt dengan memakan buah terlarang, Nabi Adam as dan Hawa sa dihukum dengan cara dikeluarkan dari surga. Selain itu, Hawa sa juga menerima hukuman lain, di antaranya mengalami haid, hamil dan melahirkan yang menyakitkan. Saat dileluarkan dari surga, Nabi Adam as diturunkan di India, sedangkan Hawa di Jeddah. Setelah mereka bertaubat, Allah swt mempertemukan keduanya di Arafah. Mereka lalu menunaikan sebagain amalan haji. Setelah itu, untuk pertama kalinya Hawa sa mengalami haid. Nabi Adam as menghentak-hentakkan kakinya ke bumi hingga terpancar air zamzam yang kemudian digunakan Hawa sa untuk mandi. Hawa sa memiliki empat puluh anak dari dua puluh kali melahirkan. Ia meninggal setahun setelah wafatnya Nabi Adam as.[32]

Makam Hawa

Terdapat perbedaan pendapat mengenai letak makam Hawa sa. Sebagian meyakini, selain tempat diturunkanya Hawa sa, Jeddah adalah juga tempat makamnya.[33] Menurut sebagian pendapat, atas dasar itu tempat tersebut dinamai Jeddah (dari kata jaddah:nenek). Makam Hawa sa dibangun pertama kali oleh warga Iran.[34] Namun kemudian dihancurkan oleh pemerintah Arab Saudi. Sumber lain meyebutkan bahwa makam Hawa sa berada samping makam Nabi Adam as di sebuah gua yang terletak di gunung Abu Qubais, Mekah.[35]

Fakta Seputar Nabi Adam yang Masih Jadi Misteri Besar Hingga Hari ini



Kita tentu sudah benar-benar tahu bagaimana kisah hidup Nabi Adam. Mulai dari proses penciptaan beliau lalu pertentangan dengan Iblis yang tak mau sujud, sampai tentang kisah pengusiran dari surga gara-gara melanggar sebuah pantangan. Hampir semua part dari kisah hidup manusia pertama ini diceritakan dengan detail. Meskipun masih meninggalkan banyak pertanyaan besar di sana.
Ya, pernahkah kamu berpikir tentang mana yang lebih dulu, dinosaurus atau Nabi Adam? Lalu bagaimana dengan manusia purba? Lalu tentang beliau sendiri, sebenarnya seberapa besar ukuran tubuhnya? Pertanyaan-pertanyaan macam ini masih jadi misteri yang sepertinya belum benar-benar bisa terungkap dengan jelas. Misteri terbesar lain Nabi Adam juga adalah tentang makamnya yang tak pernah dikabarkan dengan jelas.
Penting bagi kita untuk tahu hal yang semacam itu. Alasannya ya jelas untuk mencari tahu lebih dalam lagi tentang asal usul kita. Bukankah semua manusia berawal dari Adam? Nah, makanya untuk mengerti lebih jauh tentang misteri-misteri itu, berikut ini beberapa fakta tentang Nabi Adam yang harus kamu tahu.

Fisik Nabi Adam, Benarkah Ia Setinggi 30 Meter?

Dulu kita pasti sering diceritakan oleh ibu atau guru-guru di sekolah tentang Nabi Adam yang memiliki dimensi tubuh yang sangat besar. Kita dulu sih selalu menganalogikan dengan pohon kelapa walaupun menurut banyak orang tinggi Nabi Adam dipastikan lebih dari itu. Ya, dari cerita yang ada, banyak yang mengatakan kalau Nabi Adam memiliki tinggi badan kurang lebih sekitar 30 meter. Kalau diumpamakan kurang lebih 3-4 kali gerbong kereta.
Ilustrasi pakaian Nabi Adam [Image Source]
Ilustrasi pakaian Nabi Adam
Tentang ukuran Nabi Adam, hal tersebut dikatakan dalam banyak hadist Nabi yang diriwayatkan oleh para perawi sahih seperti Bukhari, Ahmad, dan Muslim. Dari hadist-hadist ini diketahui jika Nabi Adam memiliki postur tubuh setinggi 60 hasta atau 27,432 meter. Mengingat ini hadist apalagi sahih, kita yang beragama Islam haruslah percaya.

Alkisah Postur Nabi Adam AS 15 Kali Rata-Rata Manusia Sekarang


Ilustrasi (Foto)


https: img-z.okeinfo.net content 2017 01 09 337 1587126 top-files-alkisah-postur-nabi-adam-as-15-kali-rata-rata-manusia-sekarang-pzmWUFPtVO.jpgMANUSIA dari waktu ke waktu postur tubuhnya ternyata menyusut. Tak percaya? Mungkin ada baiknya jika kita menengok riwayat tentang manusia pertama di bumi yang tak lain adalah Nabi Adam AS.
Menyingkap Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, dikatakan Nabi Adam AS memiliki postur setinggi 60 hasta. Jika disetarakan, 60 hasta = 30 kaki =30 meter! Hampir setara dengan tinggi 15 manusia saat ini.

Allah menjadikan Adam tingginya 60 hasta, kemudian (Allah) berfirman: Pergilah dan memberi salamlah kepada para malaikat itu, dan dengarkanlah mereka memberi hormat kepada engkau. Itulah kehormatan engkau dan keturunan engkau, lalu (Adam) mengucapkan ‘Assalamu ‘alaikum’, maka (para malaikat) mengucapkan ‘Assalamu alaika wa rahmatullah’, (para malaikat) menambahkan: ‘warahmatullah’, maka setiap orang yang masuk surga serupa dengan Adam dan manusia itu senantiasa bertambah kecil sampai sekarang
Postur tubuh manusia, terutama sang nabi pertama yang berukuran “raksasa”, diperkuat dengan ditemukannya sebuah tapak kaki di Sabaragamuwa, Sri Lanka. Umat Islam dan Kristen percaya, bahwa itu adalah telapak kaki Nabi Adam AS waktu pertama kali turun ke bumi dari surga.


Tempat itu kini dinamakan “Adam’s Peak” atau Puncak Adam. Puncak ini berada di pegunungan dengan ketinggian 2.243 meter di atas permukaan laut dan terdapat situs telapak kaki raksasa sebesar 5 kaki 11 inci atau sekira 180 cm.
Tempat ini sekarang jadi situs yang disucikan masyarakat setempat dan tak jarang jadi tujuan para turis atau peziarah dari berbagai agama selama lebih dari 100 abad.
Di Mpaluzi, Afrika Selatan, juga terdapat jejak kaki raksasa yang dipercaya merupakan jejak kaki Nabi Adam AS. Namun, jejak kaki yang ditemukan sejak 1912 oleh seorang pemburu, Stoffel Coetzee itu berbentuk vertikal. 



Jejak kaki tersebut berukuran panjang sekira empat kaki atau 121,92 cm. Tidak hanya itu, di Indonesia juga ada satu situs jejak kaki manusia raksasa, tepatnya di Tapaktuan, Aceh Selatan.
Pun begitu, situs di Aceh itu bukanlah dugaan lain tentang tapak kaki Nabi Adam AS. Tapi yang pasti, setidaknya bisa digambarkan bahwa di masa lalu ukuran tubuh manusia lebih besar dari manusia saat ini.


Situs telapak kaki di Aceh itu berukuran 6x2,5 meter dan jadi objek wisata dengan berbagai mitos-mitos di yang menaunginya. Namun seiring berjalannya waktu, ukuran tubuh manusia menyusut.
Tengok saja Maqom Nabi Ibrahim AS, yakni jejak kaki Nabi Ibrahim AS saat membangun Kabah di Makkah. Jejak sepasang kaki di Maqom Ibrahim itu berukuran 27x14 cm.
Itu artinya, postur tubuh Nabi Ibrahim tak terlalu berbeda jauh dengan postur manusia saat ini, meski usianya lebih panjang. Begitupun Nabi Muhammad AS yang ukuran tubuhnya tak berbeda jauh dan usianya tak berbeda dengan rata-rata umur manusia sekarang.
Untuk menggambarkan lagi ukuran tubuh di zaman Nabi Adam AS dan perbandingannya dengan manusia sekarang, seorang warga Jeddah, Arab Saudi bernama Hamdan al-Mas’udiy, membuat sebuah pakaian berwarna putih berukuran 29x12 meter. Subhanallah!