Rabu, 29 April 2020

Penciptaan Siti Hawa


Penciptaan Siti Hawa
         Seusai khutbah  nabi Adam turun dari mimbar dan duduk di sekeliling para malaikat. Kemudian ia di tidurkan oleh Allah. Dalam tidurnya nabi Adam bermimpi bertemu seorang wanita cantik, yaitu Siti Hawa  (saat itu belum di ciptakan) dan nabi Adam tertarik tertarik terhadapnya. 
Kemudian Allah keluarkan / lahirkan Siti Hawa dari tulang rusuk nabi Adam sebelah kiri. Begitulah Allah menciptakan Siti Hawa.
Keadaan Siti Hawa ketika lahir:
-          Adalah wanita berwajah cantik yang kecantikannya melebihi bidadari.  Tiada satupun wanita dari keturunannya hingga kiamat kelak yang menandingi kecantikannya.
-          Tinggi badannya setinggi nabi Adam.
-          Rambut kepalanya terdapat 300 kepang / kuncir.
-          Mengenakan pakaian dan perhiasan sorga.
Dalam satu keterangan disebutkan: Bahwa nabi Adam memiliki wajah lebih tampan di banding Siti Hawa. Tetapi Siti Hawa memiliki sifat penyayang dan lemah-lembut melebihi  nabi Adam ([21]).
Nabi Adam menikah dengan Siti Hawa
        Ketika nabi Adam terbangun dari tidurnya, ia kaget setelah melihat wanita yang di lihatnya dalam mimpi itu sudah berada di sampingnya. Nabi Adam kagum dengan kecantikannya dan langsung hendak menyentuhnya ([22]) namun di larang oleh Allah sebelum mengeluarkan maskawinnya. Nabi Adam menanyakan kepada Allah berupa apakah maharnya itu. Allah berfirman: “ Maharmu, “Jangan kamu dekati satu pohon dan jangan kamu makan buahnya”. ([23])-([24]).
Dalam riwayat lain Allah menyuruh membayar maskawinnya berupa “Bershalawat kepada Muhammad”.  Nabi Adam menanyakan, siapa Muhammad itu?  Jawab  Allah: “Ialah seorang Nabi terakhir dari keturunanmu. Seandainya tidak ada dia, niscaya tidak Aku ciptakan seluruh makhluk-Ku ini”.  
         Kemudian Allah menumbuhkan bibit keturunan (embrio) dari punggung nabi Adam bagaikan biji-bian yang sangat banyak dan beragam, terdiri dari laki-laki dan perempuan, hitam dan putih.   Kemudian Allah turunkan Nur Muhammad pada benih-benih itu.  Benih-benih yang terkena Nur Muhammad maka kelak akan lahir menjadi orang beriman, sedangkan benih yang tidak terkena Nur Muhammad kelak lahir menjadi kafir ([25]).
Kemudian Allah nikahkan nabi Adam dengan Siti Hawa pada saat itu, yaitu hari Jum’at setelah matahari tergelincir. ([26]).
Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di sorga
         Setelah nabi Adam dan Siti Hawa resmi menjadi pasangan suami istri, Allah menyuruh malaikat membawa mereka ke sorga untuk berbulan madu. Allah perintahkan malaikat Ridwan menyiapkan istana lengkap dengan para wildan ([27]) dan bidadarinya. Buat keduanya di sediakan kendaraan sorga, buat nabi Adam seekor kuda dari misik, namanya “Maimun”.  Sedang buat Siti Hawa di sediakan seekor  “Unta”  yang keduanya memilki kecepatan sekejap mata, atau sebanding Buraq ([28]).
         Kemudian nabi Adam dan Siti Hawa menaiki kendaraannya dengan di kawal oleh malaikat Jibril, Mikail dan Israfil mengelilingi tujuh sorga dan di perlihatkan tempat / hunian para Nabi.  Selama perjalanannya nabi menyalami setiap malaikat yang di lewatinya dan mereka para malaikat berkata: “Tiada makhluk Allah yang mendapat kemuliaan semulia Adam dan Hawa”.  
         Sesampainya di depan pintu sorga Firdaus, nabi Adam dan Siti Hawa di suruh berhenti dan turun dari kendaraannya oleh malaikat pengawalnya.  Allah mewahyukan kepada nabi Adam: “Inilah sorga-Ku dan kampong kemuliaan-Ku, silahkan kalian berdua masuk dan nikmatilah keni’matan di dalamnya”. 
Allah berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini ([29]) yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim”. QS. Al-Baqarag:35.
Di antara keni’matan yang tersedia di dalam sorga Firdaus antara lain:
-          Sebuah tempat tidur berkubah, terbuat dari intan dan mutiara. Memiliki 700 tiang penyangga dari yaqut merah.  Di atasnya terdapat kasur dari Sundus warna hijau. Setiap kali nabi Adam dan Siti Hawa berhubungan, secara perlahan-lahan tempat tidur itu tertutupi oleh tirai dengan sendirinya.
-          Kemanapun Siti Hawa pergi di dalam istana selalu di ikuti bidadari yang tak terhitung jumlahnya.
-          Tersedia taman dan kebun buah-buahan yang beraneka macam dan sungai-sungai khamr yang mengalir di bawahnya.
Makanan sorga yang pertama di makan oleh nabi Adam ialah makanan yang terbuat dari tepung pohon kurma. Menurut Ibnu Abbas ialah anggur, sedang menurut An-Naisaburi ialah hati ikan.
Upaya iblis menyesatkan Nabi Adam dan Siti Hawa
         Setelah iblis mengetahui bahwa nabi Adam dan Siti Hawa berada di sorga dan di larang mendekati salah satu pohon, maka iblis berencana bagaimana supaya ia bisa masuk dan menyesatkan nabi Adam dan Hawa.
         Karena iblis tak dapat masuk, maka iapun mencari bantuan supaya bisa masuk.  Iapun rela menunggu di depan pintu sorga kurang lebih 300 tahun ([30]).  Tiba-tiba datanglah seekor burung merak (Thawus) yang sangat indah, ialah pemimpin burung sorga.  Tanya iblis: “Dari mana asalmu hai burung yang di berkahi?”. 
Jawab burung: “Dari taman tempat tinggal Adam dan Hawa”. 
Iblis berkata: “Aku adalah seorang penasehat([31]), bisakah engkau menolongku bagaimana supaya aku bisa masuk ke taman Adam, tetapi  secara sembunyi-sembunyi?”.   
Jawab burung: “Untuk hal itu aku tidak  dapat menolongmu, tapi aku bisa mempertemukan anda denga ular (Al-Hayyat) yang bisa membawa anda masuk”.  Lalu burung  menemui ular dan mengajaknya menemui iblis. 
Kepada ular iblis berkata: “Aku adalah seorang penasehat, bisakah engkau membawaku masuk ke taman Adam dengan sembunyi-sembunyi ?”.  Kata iblis lagi: “Bukalah mulutmu, aku akan masuk ke dalam perutmu dan nanti engkau muntahkan aku di dekat pohon itu ([32]).  Di dalam perut ular iblis bersembunyi di bagian ekornya.  Akhirnya iblispun sampai ke dalam taman nabi Adam  atas pertolongan ular dan di krluarkan di dekat pohon tersebut.
         Kemudian iblis cari siasat bagaimana agar nabi Adam dan Hawa mau keluar dari dalam istananya.  Dengan akal jahat dan liciknya, lalu iblis meniupkan seruling dengan suara yang sangat merdu sampai akhirnya nabi Adam dan Hawapun keluar untuk mendengarkan merdunya seruling iblis itu.   Lantas iblis berkata: “Wahai Adam, mendekatlah kemari !”. Jawab nabi Adam: “Aku di larang mendekati pohon itu”.  Lantas iblis berkata lagi: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi Malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)". QS. Al-A’raf:20. 
         Iblis juga bersumpah: “Demi Allah! Siapa yang makan buah dari pohon ini untuk selamanya ia tidak akan pikun dan beruban dan akan kekal di dalam sorga”.   Nabi Adam mengira kalau iblis adalah seorang penasehat yang jujur.  Dan akhirnya nabi Adam dan Hawa tergelincir dengan rayuan iblis dan tertarik untuk makan buah tersebut.
         Di karenakan Siti Hawa ingin sekali bisa hidup kekal di sorga, maka dia bernafsu untuk makan lebih dulu ([33]).   Ketika nabi Adam melihat istrinya setelah makan tidak ada pengaruh apapun, maka nabi Adampun akhirnya ikut makan. 
        Tatkala buah itu sampai di dalam perut nabi Adam, tiba-tiba mahkota dan pakaian yang di kenakan terbang entah kemana.   Sehingga nabi Adam tak mengenakan pakaian, begitu pula Siti Hawa.  Kemudian keduanya berlarian mencari daun buat menutup auratnya dan akhirnya mendapatkannya.   Dalam satu keterangan, daun itu ialah daun pohon At-Tin, sehingga Allah muliakan pohon At-Tin buahnya menjadi manis. 
ِAllah berfirman dalam QS. Thaha ayat 120-121:
“Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?. Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia”. ([34]).
Tatkala nabi Adam makan buah itu, maka Allah menyuruh malaikat Jibril memegang ubun-ubunnya dan mengeluarkan mereka berdua dari sorga ([35]).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar