Asal Usul Penciptaan Nabi Adam as
ASAL USUL PENCIPTAAN NABI ADAM
Adam di ciptakan dari tanah
Di katakana oleh imam Ats-Tsa’labi:
Ketika Allah hendak menciptakan Adam
dari tanah, terlebih dahulu Allah mengabarkan kepada bumi: “Hai bumi,
Aku akan ciptakan manusia dari saripatimu. Sebagian meraka ada yang taat
kepada-Ku dan sebagian lainnya durhaka kepada-Ku. Siapa yang taat kepada-Ku maka akan Aku
masukkan dia kedalam sorga-Ku, dan siapa yang durhaka kepada-Ku akan Aku
masukkan dia kedalam neraka-Ku” ([1]).
Kemudian Allah mengutus kepada Jibril
untuk turun ke bumi mengambil segenggam tanah.
Ketika Jibril hendak mengambil sebagian tanah itu, bumi menolak dan
bersumpah: ”Demi Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari utusan-Mu, agar Engkau tidak mengambil sebagian dari
kami jika nantinya akan menjadi penghuni neraka”. Karena sumpah itu, akhirnya Jibril batal
mengambil tanah itu dan melaporkan kejadiannya
kepada Allah swt. ([2]).
Kemudian
Allah menyuruh Mikail untuk mengambilnya. Bumi bersumpah lagi dan malaikat
Mikailpun batal mengambil tanah itu.
Kemudian
Allah menyuruh Malikat Izroil. Ketika
Izroil turun ke bumi, ia langsung memukul bumi dengan sebilah pedangnya dan bumipun bergetar
ketakutan, lantas malaikat Izroil mencabutnya dengan paksa. Tanah
yang diambil oleh malaikat Izroil berasal dari tanah yang beragam dan di ambil
satu genggam:
a) Tinggi rendahnya, mulai dari tanah
dataran tinggi dan rendah,
b) Sifatnya, dari tanah liat dan
gembur,
c) Warnanya, ada yang hitam dan putih, merah dll.
d) Penjurunya, ada yang dari
bumi paling barat, bumi paling timur,
utara dan selatan ([3]).
في الحديث الذي رواه الترمذي "أن الله خلق
آدم من قبضة قبضها من جميع الأرض فجاء بنو آدم على مثل ذلك، منهم الطيب والخبيث والسهل
والحزن وغير ذلك"
Dalam hadis riwayat Tirmidzi: Nabi saw bersabda:
“Sesungguhnya
Allah menciptakan Adam as dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh bagian
bumi, maka anak cucu Adampun seperti itu, sebagian ada yang baik dan buruk, ada
yang mudah (lembut) dan kasar dan sebagainya.”
Tanah itu lantas di bawa menghadap Allah. Lalu Allah berfirman
kepada Izroil: “Mengapa engkau tidak mengikuti perintah dan sumpahnya (bumi)
?. Jawab Izroil: ”Perintah-Mu
lebih aku ikuti dan aku takuti
daripada sumpahnya”. Kemudian Allah berfirman: “Mulai saat ini engkaulah malaikat pencabut nyawa (malakul maut)” ([4]).
Ketika Izroil mengambil paksa
(mencabut) sebagian dari bumi, bumipun menangis merasa kehilangan ([5]). Kemudian Allah berfirman kepada bumi: “Sesungguhnya
kelak akan Aku kembalikan kepadamu apa yang Aku ambil darimu itu”. ([6])
Kemudian Allah menyuruh Izroil
membawa tanah itu ke sorga agar di serahkan kepada malaikat Ridwan (penjaga
sorga), kecuali tanah warna putih. Untuk
tanah putih ini Allah menuruh kepada malaikat Jibril yang menyerahkannya kepada
malaikat Ridwan. Dari tanah putih ini Allah
ciptakan para Nabi. Lantas Allah
menyuruh malaikat Ridwan untuk mencampur tanah itu dengan air Tasnim
([7]),
sampai jadilah sebuah cairan tanah yang sangat besar.
Proses
pembentukan Adam
Setelah tanah tadi menjadi cairan,
kemudian malaikat Jibril di perintah oleh Allah agar cairan itu didiamkan melalui tiga tahap:
Pertama di
diamkan selama 40 tahun sampai akhirnya menjadi tanah liat (Thin laazib). Inilah yang Allah sebutkan dalam QS. As-Shaffat:11.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat”.
Kedua di
diamkan lagi selama 40 tahun sampai menjadi
tanah kering yang berbentuk manusia (Shalshal). Ini yang
Allah sebutkan dalam QS. Al-Hijr:28.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”.
Ketiga di
diamkan kembali selama 40 tahun ([8])
dalam posisi telentang di jalanan tempat lalu-lalangnya para malaikat naik dan
turun dari langit ke bumi.
Menurut
Ibnu Abbas: Pada suatu ketika, Iblis melewati tanah berbentuk nabi Adam itu,
tiba-tiba iblis menampar perut nabi Adam hingga membekas ([9]). Sampai akhirnya jadilah wujud Nabi Adam
dengan sempurna, tinggi 60 dzira’ ([10])
dan lengkap dengan anggota tubuhnya namun belum di beri ruh.
Menurut
Imam Ats-Tsa’labi: Selama dalam tahapan ketiga Allah menghujaninya dengan dua macam hujan: selama 40 tahun
berupa hujan kesedihan dan satu tahun
berupa hujan kesenangan ([11]).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar